Senandung Rumput

kala panas mendera
sang mentari memancarkan sinarnya
langit bersih tak berawan
membiru

namun, mendung tiba-tiba datang
hujan pun turun
basah bumi basah pepohonan
basah bunga anggrek ungu di halaman

rumput menghijau
penghias taman
tak usah kau siram
hujan telah menyuburkan

di saat hati gundah hujan
mendinginkan
membuatmu lupa pada segala
yang membuatmu gulana

segala luka telah kikis habis
tersiram air surga

semua air mata kini
kering tinggal suka bahagia

anggrek ungu di halaman
memekar membawa harapan
rumput hijau basah
bak permadani menghibur hati

biarlah duka hilang sudah
asa telah menanti di depan sana

ditulis usai hujan gerimis kamis 11 februari 2010

Iklan

4 responses to this post.

  1. Posted by epeha on 8 Juni 2010 at 9:01 am

    Aku jadi ingat akan cerpen Witi Ihimaera (Selandia Baru) yang pernah kuterjemahkan dan dimuat di Horizon bertahun-tahun silam. Judulnya “Tangi”.Kok nggak dari dulu nulis. Tulisanmu dahsyat.

    Balas

  2. Terima kasih Epeha, pujianmu membuatku tersanjung!

    Balas

  3. Posted by Sang Penjelajah Malam on 15 Oktober 2010 at 2:01 am

    Siip

    Balas

  4. Terima kasih!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: