Menembus Kabut


di batas ketinggian saat gelap merayapi malam
kabut turun bergulung-gulung mengirim
dingin dan hitam malam kian pekat

perjalanan mesti dilanjutkan menembus
kabut di ujung gulita
doa demi doa dilantunkan
dalam ketakutan berbungkus kepasrahan

serasa masuk di dunia mimpi
segala antara ada dan tiada
terang dan gelap silih berganti
menahan dingin meniti sepi

pohon pohon rerumputan
berteman dengan kegelapan
sinar menjadi suatu kemewahan
dalam kabut segala menjadi samar

berjalan dan terus berjalan
perlahan kabut pun memudar
berganti terang

banjarnegara 15 oktober 2010

Iklan

4 responses to this post.

  1. Posted by Sang Penjelajah Malam on 15 Oktober 2010 at 6:27 pm

    Puitis banget sich, jadi pengen ketemu penulisnya..

    Balas

  2. O, ya…terima kasih.

    Balas

  3. Mba…
    apa nang banjar kenang kabut juga …

    Balas

  4. Ada Mas Ahsan di Wanayasa, kemarin saya dan keluarga dari Pemalang pulangnya lewat Kjen Pekalongan, Kalibening dan sampai Wanayasa turun kabut seperti di puisi di atas. Matur nuwun Kang!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: