Seribu Keindahan

malam tak berbintang namun
di sana ada berjuta bintang yang dijanjikan
kala bulan, langit mengirim seribu keindahan
lebih elok dari seribu satu bulan

ke mana kan menjemputnya?
diriku yang kerdil tak berani mimpi menggapai keindahan terjanjikan
dalam kerendahan
melantunkan doa demi doa
mohon ampunan

langit kini berhias bintang
ingin kuraih satu tuk
temaniku di sepi malam
mengajariku ketaatan pada Tuhan

kunanti saat angin terhenti
keindahan tak terperi
barangkali Lailatul Qodar kan menyapa
saat hati telah berserah pasrah padaNya

Banjarnegara, 22 Agustus 2011 malam ke 23 Ramadhan

Duka

pisau duka kau
tusukkan diam-diam

tanpa suara tanpa
keluh

tak ada air mata
hanya sebaris luka

kenapa netes lagi
darah dari hatiku?

banjarnegara, 30 juli 2011

Luka

celoteh anak rembulan
di sunyi hari
hibur diri dari luka

ruang dan waktu menghimpit
menanti entah

langit cerah di sana
tak pernahkan merasa sakit?

aku ingin jadi daun saja
atau bulan
bintang
matahari

celoteh sunyi ditemani dinding bisu

Banjarnegara, 25 Juli 2011

Mozaik Indonesia

Bayangkanlah Indonesia sebuah mozaik. Presiden, anggota DPR, menteri adalah noktah-noktah kecil dalam kepingan mozaik itu. Ada rakyat, guru, pedagang, penjual asongan, buruh pabrik, penganggur yang juga merupakan noktah-noktah pembangun mozaik Indonesia.
Nah, jika kita kecewa dengan pemerintah Presiden beserta rombongannya (jajarannya), DPR dan lembaga negara lain, kita masih bisa berharap pada noktah-noktah lain pembentuk Indonesia.
Saya dan Anda percaya masih banyak orang baik di Indonesia. Masih ada guru, pegawai, hakim, pedagang, polisi, petani yang jujur dan baik.
Sekecil apa pun ternyata peran mereka dalam membangun mozaik Indonesia sama dengan pengambil kebijakan. Jadi percayalah Indonesia belum akan tenggelam jika kita titik-titik kecil namun berperan dalam membangun Indonesia tetap bersikap jujur, nasionalis, berbuat terbaik di bidangnya masing-masing.
Ayo Indonesia, ayo kita berbuat yang terbaik!

Banjarnegara, Senin 18 Juli 2011

Malam

malam gelap namun
ada kerlip bintang di sana
bulan sabit malu-malu menampakkan senyumnya

hening menyapa senyap
menggapai indahnya mimpi
di balutan selimut malam

sehelai daun jatuh
melayang di udara
jatuh ke bumi memeluk sepi dan
dinginnya sunyi

banjarnegara, selasa 7 juni 2011

Purnama Sembunyi

Purnama menghiasi langit malam
lukisan Tuhan di bentang kanvas langit
bintang gemintang terserak

kini purnama sembunyi
hitam kelam
sunyi meraja
ditemani tetes hujan

sesepi dan sehitam hatiku!

Banjarnegara, 19 Mei 2011

Hening

beribu kata beratus dusta
jalin menjalin silang sengkarut
menyesaki dunia mencemari udara
sesak di telinga pepat di kepala

ingin ku sejenak berlari
dan berdiam diri
dalam meditasi
hening diam suwung

sampai di titik
tiada lagi kata bahkan huruf
nir tak ada abjad
noktah

kekosongan sehening diam
waktu terhenti
di sini seakan mati

damai menyemai di
sunyi paling sepi
di diam selaksa mati
berhenti!

Banjarnegara, Kamis 14 April 2011

Sepi Dini Hari

tak ada suara tak ada kata
sepi bertahta

hanya sayup nyanyi burung malam
sambut dini hari
di pelukan sunyi

luka di dada bergetar
terasa saat mata terbuka
dari tidur lelapku

kembali sepi
tak ada dewi malam
langit pun hitam
mengekalkan gulita
di pagi buta

Banjarnegara, Sabtu 12 Maret 2011

Lagu Hujan

hujan bernyanyi
dalam senandung sunyi
titik-titik air membentuk harmoni
nada-nada merdu mengalun
sendu

hujan bernyanyi
mendendangkan lagu sepi
hati lara sendiri
tak ada sesiapa menemani

lagu hujan irama bidadari
semerdu buluh perindu
seindah pelangi

ku kan merindu
kisah bidadari meniti pelangi

hujanku jangan kau pergi
teruslah bernyanyi!

Banjarnegara, 1 Maret 2011

Hujan Dalam Sajak Sepiku

foto hujan dalam pigura
sepi
tetes air di lukisan dewa-dewi bak
warna pelangi merah hijau kuning ungu

hujan dibingkai sepi
sembunyi menemani membungkus
dahaga

hujan turun dan turun lagi
seperti lagu remajaku kasih hujan turun lagi
sang biduan berdendang dengan suara sendu dan
sengau
wajah cantik lesung pipi lagunya enak di telinga
cukup menghibur hati kala
rindu mendera

hujan dan warna bidadari
kucari dia sampai ujung desa
tak ada hanya dongeng belaka
nina bobo yang penuh bahagia
mengantar dunia mimpi dengan diantar
pangeran tampan berkuda atau
putri cantik jelita
bahkan si kancil yang suka mencuri pun
jadi pahlawan melawan pak tani dan siputlah
pemenangnya

hujan dalam dimensi
dibingkai indah sekali
menangkap dan digantung di dinding
penghias ruang

hujan ditemani gemuruh kilat
perkasanya alam dan si kembar
merinding ketakutan

hujan titik-titik air
dingin masuk melalui jendela
menyapa

hujan dalam sajak sepiku
mengapa kau kenanganku
sentiasa datang bersama hujan ?
membawa angan mengembara naik
kuda berjalan menyusuri rimba dimabuk
dongeng cinta
saat ingusan yang tak lekang
hingga dewasa

hujan dan jalan sunyi menuju pelangi
di ujung cakrawala senja

Banjarnegara, Sabtu 12 Februari 2011

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.